Perjuangan Seorang Ibu: Dari Politisi Menjadi Pejalan Sunyi
Rp34.000,-
| Penulis: |
| Format: | Soft Cover |
| Ukuran: | 14,5 x 21 cm. |
| Halaman: | 152 hal. |
| Kondisi: | Baru |
| ISBN: | 979-97356-6-1 |
| Berat: | 170 gram |
| Penerbit: | One Earth Media |
| Diterbitkan: | Oktober 2006 |
| Edisi Pertama? | Ya |
| Terbit pertama: | 2006 |
| Tweet | Share |
Di masa mudanya, keberuntungan selalu berpihak padanya. Sebagai mahasiswi cerdas, ia diajak oleh seorang tokoh mahasiswa '66, Rahman Toleng, untuk menjadi anggota parlemen. Karir politiknya cemerlang - bersama-sama sejumlah tokoh yang kelak dikenal sebagai politisi kawakan. Tiga periode beruntun selalu terpilih sebagai anggota DPR. Separuh duniapun dikunjunginya.
Namun, jalan hidupnya berubah di penghujung karir politiknya. Perceraian tak terelakkan jadi bahan intrik yang mendepaknya keluar jalur politik. Dari riuh rendah pentas politik, ia memasuki kesendiriannya. Dari sini pelajaran hidup baru benar-benar dimulai.
Bali Post - Minggu, 19 Desember 2004
Ketika Seorang Ibu Meniti ke dalam Diri
Buku yang ditulis dalam waktu singkat ini menceritakan perjuangan seorang wanita Indonesia. Dilahirkan di Denpasar tahun 1942 dalam keluarga brahmana, Tami -- demikian panggilan akrab Utami Pidada, penulis buku ini -- ingin berbagi pengalaman hidupnya dengan siapa saja yang berkenan.
Pertemuan penulis dengan Ibu Gedong Bagus Oka yang menjadi kepada sekolahnya saat SMA telah turun membentuk kepribadian serta pola pikirnya. Begitu pula keberadaannya di Bandung saat melanjutkan pendidikan yang telah mempertemukannya dengan beberapa aktivis mahasiswa yang belakangan muncul ke permukaan.
"Sang Penulis Takdir", demikian Tami memberi istilah kepada "Keberadaan" yang menurut Tami banyak sekali memberikan kejutan. Dari kesempatan dalam pertukaran pelajar antara Indonesia dengan Amerika telah mengantarkannya menapaki benua Amerika ketika masih pelajar. Begitu pula dengan kesempatan yang telah mengantarkannya menjadi anggota DPR selama tiga periode dan berakhir sebagai anggota MPR dan kepengurusan Golkar. Masa-masa itu telah menambah kesempatan yang mengantarkan Tami untuk menjejaki hampir setengah bola dunia dalam rangka kunjungan kerja sebagai anggota parlemen.
"Sang Penulis Takdir" juga telah mengantarkannya duduk dalam kepengurusan PHDI Pusat. Keberadaannya di kepengurusan PHDI telah memberikan kesempatan untuk mengunjungi India. Selama di Indonesia ia sempat mengunjungi padepokan kelompok Sai Baba, Osho, Pusat Teosofi yang didirikan Madame Blafatsky dan berkenalan dengan ajaran Jiddu Krishnamurti.
Menurut Tami, ajaran Krishnamurthi-lah yang telah mereformasi dirinya. Perjalanan ke India telah memberikan kesan yang begitu mendalam kepada Tami. India dengan mayoritas penduduknya yang beragama Hindu menurut Tami adalah seperti sebuah toko serba ada, apa saja ada, terserah yang mau berbelanja. Sempat pula Tami menunaikan ibadah Umroh dan sekaligus ziarah ke tembok ratapan (the wailing wall) di kota tua Yarusalem.
Perjalanan hidupnya dari organisasi politik sampai ke organisasi keagamaan, ditambah lagi dengan perkenalannya dengan ajaran Krishnamurti, telah mengubah cara padang Tami menjadi penganut paham universalisme dan inklusivisme. Sejak berkenalan dengan ajaran Krishnamurti, ia mengakui bahwa diam-diam ada sesuatu yang ingin dia cari. Namun sesuatu itu belum jelas wujudnya, belum bisa digambarkan oleh pikirannya.
Perkenalannya dengan Anand Krishna sewaktu sama-sama duduk di kepengurusan PHDI sangat membantu perkembangan spiritual Tami. Anand Krishna-lah yang selalu siap di ujung telepon untuk menjawab segala pertanyaannya. Tami mengakui bahwa dirinya bisa memahami apa yang diajarkabn oleh Krishnamurti, namun pemahaman saja belum cukup karena paham saja tidak akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan. Hanya dengan mengalamilah seseorang akan mendapatkan pengetahuan sejati.
Bagi Tami, rupanya "Sang Penulis Takdir" telah merancang bahwa pertemuannya dengan seorang Anand Krishna bukan sebuah kebetulan. Dengan mengikuti program-program yang diselenggarakan oleh Anand Ashram dibawah bimbingan Anand Krishna yang diikuti oleh kelompok lintas agama, Tami yakin bahwa apa yang diam-diam dia cari selama ini semakin jelas wujudnya. Pemahamannya tentang ajaran Krishnamurti seperti mendapatkan "manual" sebagai pemandu untuk menemukan sesuatu yang belum jelas wujudnya yang dia cari selama ini.
Di buku ini, penulis banyak bercerita tentang proses cleasing atau pembersihan dan transformasi yang membantunya, yang dia sebut dengan deconditioning dan reprogramming. Kedua istilah ini mungkin saja baru didengar bagi sebagian besar pembaca. Terkait dengan proses pemerdayaan diri dan penitian ke dalam diri, deconditioning merupakan proses untuk melepaskan pikiran dan nilai-nilai kedaluwarsa yang menutupi jiwa untuk melihatNya secara jelas. Sedangkan reprogramming merupakan penanaman nilai-nilai baru ke dalam pikiran untuk menyadari akan kesejatian diri dan keberadaan Dia yang Maha Pengasih di mana-mana.
Istilah atau kata deconditioning dan reprogramming, kalau dicari dalam buku susastra, kata tersebut jelas tidak ada. Namun bukan berarti esensi kata-kata tersebut tidak ada dalam kitab susastra. Dalam tradisi timur misalnya dikenal berbagai teknik "kriya" yang berfungsi untuk membersihkan -- itulah deconditioning dan japa. Dan mantra merupakan salah satu wujud pembentukan mind baru untuk membantu menyadari kehadiranNya setiap saat dan di mana-mana itulah reprogramming.
Menjejaki jalan spiritual berarti meniti jalan ke dalam diri. Perjalanan ini, menurut Tami, ibarat melepas paku ulir dari suatu media di mana paku ulir tersebut harus diputar ke kiri. Itu berarti melepaskan diri dari ikatan duniawi, bukan meninggalkan duniawi. Menurut Tami, praktik ini telah mendekatkan dirinya ke dalam momen "here and now", sehingga bisa menjalani kehidupan dengan santai dan penuh dengan kegembiraan. Hal ini bisa dilihat dari keadaan Tami, bagaimana ia mengisi saat-saat apa yang dia sebut sebagai "sendiri ditemani kekosongan" dan "jatuh miskin di usia senja".
Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja khususnya perlu oleh para elite politik di negeri ini. Begitu juga di tengah berkembangnya paham fundamental dalam kelompok-kelompok agama, buku ini bisa menjadi cermin untuk melihat segala sesuatu secara jernih dan utuh. (Putu Kesuma)
Namun, jalan hidupnya berubah di penghujung karir politiknya. Perceraian tak terelakkan jadi bahan intrik yang mendepaknya keluar jalur politik. Dari riuh rendah pentas politik, ia memasuki kesendiriannya. Dari sini pelajaran hidup baru benar-benar dimulai.
Bali Post - Minggu, 19 Desember 2004
Ketika Seorang Ibu Meniti ke dalam Diri
Buku yang ditulis dalam waktu singkat ini menceritakan perjuangan seorang wanita Indonesia. Dilahirkan di Denpasar tahun 1942 dalam keluarga brahmana, Tami -- demikian panggilan akrab Utami Pidada, penulis buku ini -- ingin berbagi pengalaman hidupnya dengan siapa saja yang berkenan.
Pertemuan penulis dengan Ibu Gedong Bagus Oka yang menjadi kepada sekolahnya saat SMA telah turun membentuk kepribadian serta pola pikirnya. Begitu pula keberadaannya di Bandung saat melanjutkan pendidikan yang telah mempertemukannya dengan beberapa aktivis mahasiswa yang belakangan muncul ke permukaan.
"Sang Penulis Takdir", demikian Tami memberi istilah kepada "Keberadaan" yang menurut Tami banyak sekali memberikan kejutan. Dari kesempatan dalam pertukaran pelajar antara Indonesia dengan Amerika telah mengantarkannya menapaki benua Amerika ketika masih pelajar. Begitu pula dengan kesempatan yang telah mengantarkannya menjadi anggota DPR selama tiga periode dan berakhir sebagai anggota MPR dan kepengurusan Golkar. Masa-masa itu telah menambah kesempatan yang mengantarkan Tami untuk menjejaki hampir setengah bola dunia dalam rangka kunjungan kerja sebagai anggota parlemen.
"Sang Penulis Takdir" juga telah mengantarkannya duduk dalam kepengurusan PHDI Pusat. Keberadaannya di kepengurusan PHDI telah memberikan kesempatan untuk mengunjungi India. Selama di Indonesia ia sempat mengunjungi padepokan kelompok Sai Baba, Osho, Pusat Teosofi yang didirikan Madame Blafatsky dan berkenalan dengan ajaran Jiddu Krishnamurti.
Menurut Tami, ajaran Krishnamurthi-lah yang telah mereformasi dirinya. Perjalanan ke India telah memberikan kesan yang begitu mendalam kepada Tami. India dengan mayoritas penduduknya yang beragama Hindu menurut Tami adalah seperti sebuah toko serba ada, apa saja ada, terserah yang mau berbelanja. Sempat pula Tami menunaikan ibadah Umroh dan sekaligus ziarah ke tembok ratapan (the wailing wall) di kota tua Yarusalem.
Perjalanan hidupnya dari organisasi politik sampai ke organisasi keagamaan, ditambah lagi dengan perkenalannya dengan ajaran Krishnamurti, telah mengubah cara padang Tami menjadi penganut paham universalisme dan inklusivisme. Sejak berkenalan dengan ajaran Krishnamurti, ia mengakui bahwa diam-diam ada sesuatu yang ingin dia cari. Namun sesuatu itu belum jelas wujudnya, belum bisa digambarkan oleh pikirannya.
Perkenalannya dengan Anand Krishna sewaktu sama-sama duduk di kepengurusan PHDI sangat membantu perkembangan spiritual Tami. Anand Krishna-lah yang selalu siap di ujung telepon untuk menjawab segala pertanyaannya. Tami mengakui bahwa dirinya bisa memahami apa yang diajarkabn oleh Krishnamurti, namun pemahaman saja belum cukup karena paham saja tidak akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan. Hanya dengan mengalamilah seseorang akan mendapatkan pengetahuan sejati.
Bagi Tami, rupanya "Sang Penulis Takdir" telah merancang bahwa pertemuannya dengan seorang Anand Krishna bukan sebuah kebetulan. Dengan mengikuti program-program yang diselenggarakan oleh Anand Ashram dibawah bimbingan Anand Krishna yang diikuti oleh kelompok lintas agama, Tami yakin bahwa apa yang diam-diam dia cari selama ini semakin jelas wujudnya. Pemahamannya tentang ajaran Krishnamurti seperti mendapatkan "manual" sebagai pemandu untuk menemukan sesuatu yang belum jelas wujudnya yang dia cari selama ini.
Di buku ini, penulis banyak bercerita tentang proses cleasing atau pembersihan dan transformasi yang membantunya, yang dia sebut dengan deconditioning dan reprogramming. Kedua istilah ini mungkin saja baru didengar bagi sebagian besar pembaca. Terkait dengan proses pemerdayaan diri dan penitian ke dalam diri, deconditioning merupakan proses untuk melepaskan pikiran dan nilai-nilai kedaluwarsa yang menutupi jiwa untuk melihatNya secara jelas. Sedangkan reprogramming merupakan penanaman nilai-nilai baru ke dalam pikiran untuk menyadari akan kesejatian diri dan keberadaan Dia yang Maha Pengasih di mana-mana.
Istilah atau kata deconditioning dan reprogramming, kalau dicari dalam buku susastra, kata tersebut jelas tidak ada. Namun bukan berarti esensi kata-kata tersebut tidak ada dalam kitab susastra. Dalam tradisi timur misalnya dikenal berbagai teknik "kriya" yang berfungsi untuk membersihkan -- itulah deconditioning dan japa. Dan mantra merupakan salah satu wujud pembentukan mind baru untuk membantu menyadari kehadiranNya setiap saat dan di mana-mana itulah reprogramming.
Menjejaki jalan spiritual berarti meniti jalan ke dalam diri. Perjalanan ini, menurut Tami, ibarat melepas paku ulir dari suatu media di mana paku ulir tersebut harus diputar ke kiri. Itu berarti melepaskan diri dari ikatan duniawi, bukan meninggalkan duniawi. Menurut Tami, praktik ini telah mendekatkan dirinya ke dalam momen "here and now", sehingga bisa menjalani kehidupan dengan santai dan penuh dengan kegembiraan. Hal ini bisa dilihat dari keadaan Tami, bagaimana ia mengisi saat-saat apa yang dia sebut sebagai "sendiri ditemani kekosongan" dan "jatuh miskin di usia senja".
Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja khususnya perlu oleh para elite politik di negeri ini. Begitu juga di tengah berkembangnya paham fundamental dalam kelompok-kelompok agama, buku ini bisa menjadi cermin untuk melihat segala sesuatu secara jernih dan utuh. (Putu Kesuma)











