Narada Bhakti Sutra: Menggapai Cinta Tak Bersyarat
Rp55.000,-
| Penulis: |
| Format: | Soft Cover, dengan Jaket |
| Ukuran: | 11 x 18 cm. |
| Halaman: | 338 hal. |
| Kondisi: | Baru |
| ISBN: | 979-686-516-5 |
| Berat: | 270 gram |
| Penerbit: | Gramedia Pustaka Utama |
| Diterbitkan: | Agustus 2001 |
| Terbit pertama: | 2001 |
| Tweet | Share |
Dalam dunia wayang, Narada dikenal sebagai Dewa. Brahma Rishi ini sebenarnya adalah tokoh historis. Sepeninggal ibunya secara tiba-tiba, pemuda ini mulai mengembara, untuk menguasai segala cabang pengetahuan.
Dengan penguasaan pengetahuan yang ada pada zamannya, hati pemuda ini sama sekali tak terpuaskan, sampai akhirnya dia bertemu dengan Sanatkumara, seorang pujangga dari Kalpa yang sudah berlalu.
Olehnya Narada diingatkan bahwa hanya ada satu yang akan memuaskan hatinya,...yaitu "Yang Hanya Satu Ada-Nya,... Kasih, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas."
Karena itu, mulailah Narada menyelami Cinta dan Bhakti Sutra adalah mahakarya hasil penyelamannya.
Dengan komentar Anand Krishna, kini karya klasik ini terbuka bagi kita. Bagaikan cermin, kita bisa menatapnya untuk menemukan diri, dan DIA yang bersemayam di dalam diri, Narayana. Anand Krishna adalah warga negara Indonesia keturunan India, yang disebut sebagai “sang fenomenal” baik oleh orang yang mengkritiknya maupun yang bersimpati padanya. Para pengkritiknya bertanya-tanya, “Apa yang membuat ia begitu populer? Bukankah tak ada yang luar biasa darinya?” Sebaliknya mereka yang bersimpati pada Anand Krishna sungguh mengapresiasi tekadnya untuk menyebarkan kedamaian di antara kelompok masyarakat yang berbeda dan mengklaimkan: “Dia datang dari Sumber Segala Kebijaksanaan.”
Dalam 18 tahun terakhir, Anand Krishna telah berbicara pada jutaan orang lewat siaran televisi, dialog radio, pelatihan-pelatihan, buku-buku, wawancara surat kabar dan pelbagai artikel koran.
Informasi lebih lanjut tentang Anand Krishna dapat dilihat di Aumkar.org "Bagaimana menyadari Kasih dalam diri?" bertanya Narada pada Sanatkumara. "Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri," jawab Sang Guru yang bijaksana.
Narada memahami maksud Sanatkumara. Sayangnya, sebagian manusia tidak. Maka, lahirlah konsep-konsep buatan manusia tentang Tuhan, Sesuatu yang Maha Ada, di luar diri yang disalahpahami. Manusia yang belum bisa menyadari kasih di dalam diri, melahirkan konsep untuk "dikasihi" dan berhenti pada tahap itu. Mirip dengan pemahaman filsafat barat tentang munculnya "alienasi", atau keterasingan manusia dari dirinya yang sejati. Manusia memproyeksikan Yang Maha Ada sebagai sesuatu di luar dirinya, tapi, lama-kelamaan, manusia diperbudak oleh konsep buatannya sendiri. Tuhan yang dikenal manusia menjadi Tuhan yang "pemarah" dan "penghukum". Celakanya, berbagai kelompok manusia melembagakan pemahaman ini, yang kemudian menjadi fanatisme buta yang saling menghancurkan. Masing-masing mengatasnamakan Tuhan yang "pemarah" untuk menindas yang lain. Tak heran jika terdengar ada orang-orang yang saling meledakkan gereja, vihara, pura atau masjid.
Manusia lupa bahwa konsep-konsep tentang Tuhan itu hanyalah alat bantu. Seperti kata Anand Krishna dalam buku terbarunya yang membahas karya pujangga asal India, Narada, berjudul Narada Bhakti Sutra, "menganggap Tuhan di luar diri ibarat bercermin diri. Cermin bisa menjadi alat bantu. Lewat 'bayangan diri' yang terlihat, mata bisa menyadari 'keberadaan diri." Konsep itu bisa jadi alat bantu "asal kita tidak berhenti pada tahapan itu." Cinta Kasih Ilahi mesti diselami.
Narada Bhakti Sutra adalah sebuah karya klasik Narada, yang dipercaya berasal dari kalpa terdahulu (siklus kehidupan semesta sebelumnya), yang tema sentralnya adalah Cinta Kasih atau Bhakti, Cinta yang Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Lepas dari siapa sebenarnya Narada, yang lebih menarik adalah tema yang dibahas dalam kitab ini. Di sini, Cinta Kasih tak sekedar dibahas sebagai utopia yang tak terjangkau oleh manusia. Lebih dari itu, Narada mengajak untuk masuk menceburkan diri dalam Cinta, bersatu dengan Kasih Ilahi.
Karya ini dimulai dengan sebuah pernyataan singkat Narada, "Athaato Bhaktim Vyaakhyaasyaamah". "Karena itu, sekarang kita akan mengulas Bhakti, akan menyelami Kasih…" Kalimat yang terasa janggal. Terasa bahwa ada sesuatu kalimat pendahulu yang diasumsikan telah dimengerti oleh pembaca. Apa yang dibicarakan sebelumnya? Dalam bahasa Anand Krishna yang sedikit provokatif, "Narada Bhakti Sutra tidak dimaksudkan bagi mereka yang masih asyik mencari cinta di luar diri". Karya ini diperuntukkan bagi pencari yang sudah jenuh. "Bila anda sudah selesai dengan pencarian, penyelaman dan penggalian, bila anda sudah selesai dengan segala sesuatu yang bersifat luaran, berbeloklah bersama Narada." (Sekedar informasi, buku ini merupakan transkripsi dari ulasan Anand Krishna dalam sekelompok kecil orang di paguyubannya yang secara berkala berkumpul bersama dan bermeditasi. Bukan tanpa alasan ia baru mengulas karya ini setelah lebih dari satu dekade mendirikan padepokan dan menerbitkan lebih dari 40 judul buku). Tampaknya, bagi Narada, Cinta akan tinggal jadi konsep belaka yang tak punya implikasi praktis tanpa kesiapan atau kesungguhan untuk menjadi "pecinta".
Namun, menyelami Cinta Kasih bukan mustahil. Astyeva-Mevam. "Banyak yang bisa melakukan hal itu." Nyatanya, banyak orang dalam sejarah yang telah melakukannya. Para nabi, avatar atau mereka yang dikenal sebagai the living masters, adalah para pecinta sejati yang telah berhasil mempraktekkannya. Bagi mereka yang baru 'belajar', dalam ulasan Anand Krishna, "Kasih masih berada dalam kandungan; masih berbentuk janin; masih merupakan potensi; masih belum lahir; masih belum cukup berkembang…" Dalam pandangan Narada, Kasih Sejati merupakan hasil dari "perbuatan baik" (karma), "pengetahuan sejati" (gyaana) dan "kesadaran akan kesatuan dengan Keberadaan" (yoga).
Lalu, bagaimana cara menggapai Kasih Sejati? Tasyaah Saadhnaani Aachaaryaah Gaayanti. "Upaya-upaya untuk menggapai (Kasih Sejati), dinyanyikan oleh para Aachaarya (Guru-Praktisi)." Dalam tradisi spiritual di dunia timur, pada umumnya, pelajaran yang bernilai tinggi disampaikan oleh Guru dengan cara dinyanyikan. Dengan menyanyikan, maka unsur "rasa" pun dikedepankan. Dengan begitu, para murid tidak sekedar menyerap "pelajaran" yang diberikan dengan rasionya belaka, tetapi juga merasakannya secara utuh. Bahkan "belajar" bukan lagi kata yang tepat, yang terjadi adalah "penularan" rasa atau pengalaman. Riset-riset ilmu pengetahuan belakangan ini pun membuktikan bahwa nyanyian atau musik dapat menciptakan rileksasi yang dapat menunjang peningkatan intelejensi dan kesadaran manusia.
Bagi Narada, berbagai macam cara untuk menggapai Kasih, sah-sah saja. Yang penting "tujuan"-nya adalah Kasih. Semua akan berakhir pada muara yang sama. Ada yang mencapainya dengan cara melepaskan diri dari keterikatan duniawi (Tat Tu Vishaya-Tyaagaat Sanga-Tyaagaat Cha). Atau, lewat pelayanan tanpa pamrih yang tak terputus (Avaavruta-Bhajanaat). Cara apapun, Tuhan haruslah dilibatkan di tengah kegiatan sehari-hari (Loke-Api Bhagavad-Guna-Shravana-Keertanaat). Dalam bahasa Anand Krishna, "Narada mengajak kita untuk 'memuliakan' setiap kegiatan." Apapun profesi seseorang yang hendak menjadi pecinta, jangan hanya mengejar uang dan kenyamanan diri. Bertanyalah pada diri sendiri, "apakah kegiatanku juga membantu masyarakat luas?"
Pemahaman seperti ini membawa konsekuensi gugurnya pengertian usang bahwa urusan manusia dengan Tuhan adalah "hubungan vertikal", sedangkan urusan manusia dengan manusia adalah semata-mata "hubungan horizontal". Bekerja untuk kepentingan sesama manusia dengan landasan Kasih pun merupakan upaya untuk mewujudkan keilahian dalam diri manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa "tak ada segala sesuatu selain Dia". "Lihatlah wajah-Nya di barat dan di timur dan utara dan selatan. Rasakan kehadiran-Nya di bumi dan di langit. Temukan kasih-Nya dalam diri manusia dan mahluk-mahluk hidup lainnya…"
Dalam perjalanan menggapai Kasih, Narada mengingatkan bahwa lingkungan pergaulan menjadi amat penting untuk diperhatikan. Kaama-Krodha-Moha-Smruti-Bhransha-Buddhi-Naasha-Sarva-Naasha-Kaaranatvaat. "(Pergaulan yang tidak menunjang kasih) hanya membangkitkan hawa napsu, amarah dan keterikatan. (Kemudian, manusia) menjadi pelupa, bimbang dan hilang pula kemampuannya untuk berpikir jernih. (Pada akhirnya,) dia binasa."
Mestilah dimengerti bahwa Narada berbicara pada mereka yang belajar untuk menjadi pecinta. Situasi yang dialami para "pemula" dapat diibaratkan dengan sebuah benih yang baru ditanam. Benih itu harus dipagari supaya ia dapat tumbuh dan tidak terinjak-injak. Jika benih sudah menjadi pohon besar, pagar tak lagi diperlukan. Ia justru bisa jadi pelindung bagi mereka yang mencari keteduhan. Itulah sebabnya, seperti diulas Anand Krishna, di sekitar seorang guru, biasanya tumbuh komunitas. Mirip-mirip dengan sangha dalam bahasa kaum budhis, atau jemaah atau jemaat. Komunitas ini, bukan saja untuk melindungi mereka yang belajar, tapi dengan kesadaran kolektifnya juga mampu menciptakan pool of energy yang bisa membantu peningkatan kesadaran sekaligus mempengaruhi kesadaran lingkungan luar yang lebih luas.
Dalam konteks ilmu biologi, hal ini telah diperkuat oleh riset yang dilakukan Dr. Rupert Sheldrake (biologist asal Cambridge yang menulis buku Seven Experiments that Could Change the World dan The Presence of the Past: Morphic Resonance & the Habits of Nature). Menurut Sheldrake, proses evolusi amat dipengaruhi oleh apa yang disebutnya morphic resonance, yaitu sebuah bentuk transfer informasi yang menembus ruang dan waktu di antara spesies tertentu. Salah satu penelitian Sheldrake - yang juga meneliti obyek-obyek yang lain - menunjukkan bahwa tikus-tikus di seluruh dunia akan menunjukkan kecenderungan lebih cepat untuk belajar sebuah trik tertentu, setelah trik tersebut dipelajari terlebih dahulu oleh beberapa tikus di tempat tertentu. Karena itu, peningkatan kesadaran kolektif sebuah komunitas, logisnya, juga dapat mempengaruhi perkembangan kesadaran manusia secara keseluruhan.
Yang juga menarik, Narada mengungkapkan sejumlah cara praktis untuk membumikan Cinta. "Walau 'Satu' dan 'Tunggal' ada-Nya, Cinta (terhadap Yang Maha Esa) dapat diungkapkan lewat sebelas cara (utama): Mencintai Sifat-Sifa-Nya; Mencintai Wujud-Nya; Memuja-Nya; Mengingat-Nya; Melayani-Nya; Mencintai-Nya sebagai Sahabat; Mencintai-Nya sebagai Anak (atau Orangtua); Mencintai-Nya sebagai Pasangan Hidup; Menyerahkan diri secara total; Menyatu dengan-Nya, dan; Merindukan Dia (Guna -Maahaatmaya-Aasakti Roopa-Aasakti Pooja-Aasakti Smaran-Aasakti Daasya-Aasakti Sakhya-Aasakti Vaatsalya-Aasakti Kaanta-Aasakti Aatma-Nivedana-Aasakti Tanmayataa-Aasakti Parama-Viraha-Aasakti Roopa Ekadhaa Ekaadashdaa Bhavati)."
Dengan ini, Narada hendak menunjukkan bahwa cara yang berbeda-beda untuk mengagungkan Tuhan yang dipilih oleh para Nabi, Avatar, Master, samasekali tidak bertentangan satu sama lain. Hal ini dipertegas oleh Anand Krishna, "Salahkah Yesus dan para nabi Israel yang menganggap Tuhan sebagai Bapa di Surga? Salahkah Ramakrishna yang menerima Tuhan sebagai Bunda Alam Semesta? Salahkah mereka yang sedang menglilingi Kabah, sembari mengagungkan kebesaran-Nya, Salahkah mereka yang sedang membakar dupa di vihara dan menyalakan lilin di gereja? Salahkah seorang Mansur yang merasakan kesatuan dengan-Nya? Salahkah para Gopi yang sedang merindukan Krishna?" Dengan menggunakan kacamata ini, seseorang yang dengan sadar mencintai Guru, Master atau Wali-nya, sesungguhnya, sedang membiarkan egonya terbakar untuk menyatu dengan Kasih Ilahi. Karena Tuhan Maha Besar ada-Nya, sulit bagi para murid yang baru belajar untuk 'mengenali-Nya'. Itu sebabnya, mereka mempersonifikasikan-Nya agar dapat lebih 'merasakan-Nya'. Jadi, semata-mata bukan merupakan pengkultusan individu yang irasional.
Sebagaimana buku-buku yang merupakan hasil transkripsi, terdapat beberapa pengulangan pembahasan tentang tema tertentu di sana-sini. Namun, hal ini bukan tanpa tujuan. Pengulangan demikian, seringkali dimaksudkan sebagai penekanan (emphasize) untuk mempermudah para murid memahami poin-poin terpenting yang hendak disampaikan. Bagi Para Master, sistematika memang tidak terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana murid "memahami" sekaligus "menyelami" Kebenaran yang memang utuh adanya.
Buku ini merupakan terjemahan Narada Bhakti Sutra versi Swami Tyagisananda dari Ordo Ramakrishna yang diselesaikan pada tahun 1940 dan dianggap oleh Anand Krishna sebagai terjemahan yang paling 'pas' - sebab dihasilkan oleh seorang praktisi spiritual yang tak sekedar berteori tapi juga mendalami. Beruntung pengulas yang juga menerjemahkan versi Indonesia karya ini datang dari tradisi yang kental dengan spiritualitas dunia timur, bahkan mengerti bahasa asli dari kitab berusia ribuan tahun ini, sehingga pembaca sedikit "dimanjakan". Namun, yang juga amat penting dari buku ini, adalah ide yang hendak disampaikan pada pembaca bahwa dari sudut pandang manapun, Cinta adalah universal. Bahwa Cinta tak hanya dimonopoli oleh "budayaku", "agamaku", "peradabanku". Semua bisa "menyanyikannya". Kiranya karya-karya semacam ini semakin memperkaya bangsa Indonesia dari perangkap fanatisme buta. Sehingga mampu bangkit dari keterpurukan multidimensional saat ini dan bersiap menjadi bangsa yang besar.(Wandy Nicodemus)
Dengan penguasaan pengetahuan yang ada pada zamannya, hati pemuda ini sama sekali tak terpuaskan, sampai akhirnya dia bertemu dengan Sanatkumara, seorang pujangga dari Kalpa yang sudah berlalu.
Olehnya Narada diingatkan bahwa hanya ada satu yang akan memuaskan hatinya,...yaitu "Yang Hanya Satu Ada-Nya,... Kasih, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas."
Karena itu, mulailah Narada menyelami Cinta dan Bhakti Sutra adalah mahakarya hasil penyelamannya.
Dengan komentar Anand Krishna, kini karya klasik ini terbuka bagi kita. Bagaikan cermin, kita bisa menatapnya untuk menemukan diri, dan DIA yang bersemayam di dalam diri, Narayana. Anand Krishna adalah warga negara Indonesia keturunan India, yang disebut sebagai “sang fenomenal” baik oleh orang yang mengkritiknya maupun yang bersimpati padanya. Para pengkritiknya bertanya-tanya, “Apa yang membuat ia begitu populer? Bukankah tak ada yang luar biasa darinya?” Sebaliknya mereka yang bersimpati pada Anand Krishna sungguh mengapresiasi tekadnya untuk menyebarkan kedamaian di antara kelompok masyarakat yang berbeda dan mengklaimkan: “Dia datang dari Sumber Segala Kebijaksanaan.”
Dalam 18 tahun terakhir, Anand Krishna telah berbicara pada jutaan orang lewat siaran televisi, dialog radio, pelatihan-pelatihan, buku-buku, wawancara surat kabar dan pelbagai artikel koran.
Informasi lebih lanjut tentang Anand Krishna dapat dilihat di Aumkar.org "Bagaimana menyadari Kasih dalam diri?" bertanya Narada pada Sanatkumara. "Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri," jawab Sang Guru yang bijaksana.
Narada memahami maksud Sanatkumara. Sayangnya, sebagian manusia tidak. Maka, lahirlah konsep-konsep buatan manusia tentang Tuhan, Sesuatu yang Maha Ada, di luar diri yang disalahpahami. Manusia yang belum bisa menyadari kasih di dalam diri, melahirkan konsep untuk "dikasihi" dan berhenti pada tahap itu. Mirip dengan pemahaman filsafat barat tentang munculnya "alienasi", atau keterasingan manusia dari dirinya yang sejati. Manusia memproyeksikan Yang Maha Ada sebagai sesuatu di luar dirinya, tapi, lama-kelamaan, manusia diperbudak oleh konsep buatannya sendiri. Tuhan yang dikenal manusia menjadi Tuhan yang "pemarah" dan "penghukum". Celakanya, berbagai kelompok manusia melembagakan pemahaman ini, yang kemudian menjadi fanatisme buta yang saling menghancurkan. Masing-masing mengatasnamakan Tuhan yang "pemarah" untuk menindas yang lain. Tak heran jika terdengar ada orang-orang yang saling meledakkan gereja, vihara, pura atau masjid.
Manusia lupa bahwa konsep-konsep tentang Tuhan itu hanyalah alat bantu. Seperti kata Anand Krishna dalam buku terbarunya yang membahas karya pujangga asal India, Narada, berjudul Narada Bhakti Sutra, "menganggap Tuhan di luar diri ibarat bercermin diri. Cermin bisa menjadi alat bantu. Lewat 'bayangan diri' yang terlihat, mata bisa menyadari 'keberadaan diri." Konsep itu bisa jadi alat bantu "asal kita tidak berhenti pada tahapan itu." Cinta Kasih Ilahi mesti diselami.
Narada Bhakti Sutra adalah sebuah karya klasik Narada, yang dipercaya berasal dari kalpa terdahulu (siklus kehidupan semesta sebelumnya), yang tema sentralnya adalah Cinta Kasih atau Bhakti, Cinta yang Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Lepas dari siapa sebenarnya Narada, yang lebih menarik adalah tema yang dibahas dalam kitab ini. Di sini, Cinta Kasih tak sekedar dibahas sebagai utopia yang tak terjangkau oleh manusia. Lebih dari itu, Narada mengajak untuk masuk menceburkan diri dalam Cinta, bersatu dengan Kasih Ilahi.
Karya ini dimulai dengan sebuah pernyataan singkat Narada, "Athaato Bhaktim Vyaakhyaasyaamah". "Karena itu, sekarang kita akan mengulas Bhakti, akan menyelami Kasih…" Kalimat yang terasa janggal. Terasa bahwa ada sesuatu kalimat pendahulu yang diasumsikan telah dimengerti oleh pembaca. Apa yang dibicarakan sebelumnya? Dalam bahasa Anand Krishna yang sedikit provokatif, "Narada Bhakti Sutra tidak dimaksudkan bagi mereka yang masih asyik mencari cinta di luar diri". Karya ini diperuntukkan bagi pencari yang sudah jenuh. "Bila anda sudah selesai dengan pencarian, penyelaman dan penggalian, bila anda sudah selesai dengan segala sesuatu yang bersifat luaran, berbeloklah bersama Narada." (Sekedar informasi, buku ini merupakan transkripsi dari ulasan Anand Krishna dalam sekelompok kecil orang di paguyubannya yang secara berkala berkumpul bersama dan bermeditasi. Bukan tanpa alasan ia baru mengulas karya ini setelah lebih dari satu dekade mendirikan padepokan dan menerbitkan lebih dari 40 judul buku). Tampaknya, bagi Narada, Cinta akan tinggal jadi konsep belaka yang tak punya implikasi praktis tanpa kesiapan atau kesungguhan untuk menjadi "pecinta".
Namun, menyelami Cinta Kasih bukan mustahil. Astyeva-Mevam. "Banyak yang bisa melakukan hal itu." Nyatanya, banyak orang dalam sejarah yang telah melakukannya. Para nabi, avatar atau mereka yang dikenal sebagai the living masters, adalah para pecinta sejati yang telah berhasil mempraktekkannya. Bagi mereka yang baru 'belajar', dalam ulasan Anand Krishna, "Kasih masih berada dalam kandungan; masih berbentuk janin; masih merupakan potensi; masih belum lahir; masih belum cukup berkembang…" Dalam pandangan Narada, Kasih Sejati merupakan hasil dari "perbuatan baik" (karma), "pengetahuan sejati" (gyaana) dan "kesadaran akan kesatuan dengan Keberadaan" (yoga).
Lalu, bagaimana cara menggapai Kasih Sejati? Tasyaah Saadhnaani Aachaaryaah Gaayanti. "Upaya-upaya untuk menggapai (Kasih Sejati), dinyanyikan oleh para Aachaarya (Guru-Praktisi)." Dalam tradisi spiritual di dunia timur, pada umumnya, pelajaran yang bernilai tinggi disampaikan oleh Guru dengan cara dinyanyikan. Dengan menyanyikan, maka unsur "rasa" pun dikedepankan. Dengan begitu, para murid tidak sekedar menyerap "pelajaran" yang diberikan dengan rasionya belaka, tetapi juga merasakannya secara utuh. Bahkan "belajar" bukan lagi kata yang tepat, yang terjadi adalah "penularan" rasa atau pengalaman. Riset-riset ilmu pengetahuan belakangan ini pun membuktikan bahwa nyanyian atau musik dapat menciptakan rileksasi yang dapat menunjang peningkatan intelejensi dan kesadaran manusia.
Bagi Narada, berbagai macam cara untuk menggapai Kasih, sah-sah saja. Yang penting "tujuan"-nya adalah Kasih. Semua akan berakhir pada muara yang sama. Ada yang mencapainya dengan cara melepaskan diri dari keterikatan duniawi (Tat Tu Vishaya-Tyaagaat Sanga-Tyaagaat Cha). Atau, lewat pelayanan tanpa pamrih yang tak terputus (Avaavruta-Bhajanaat). Cara apapun, Tuhan haruslah dilibatkan di tengah kegiatan sehari-hari (Loke-Api Bhagavad-Guna-Shravana-Keertanaat). Dalam bahasa Anand Krishna, "Narada mengajak kita untuk 'memuliakan' setiap kegiatan." Apapun profesi seseorang yang hendak menjadi pecinta, jangan hanya mengejar uang dan kenyamanan diri. Bertanyalah pada diri sendiri, "apakah kegiatanku juga membantu masyarakat luas?"
Pemahaman seperti ini membawa konsekuensi gugurnya pengertian usang bahwa urusan manusia dengan Tuhan adalah "hubungan vertikal", sedangkan urusan manusia dengan manusia adalah semata-mata "hubungan horizontal". Bekerja untuk kepentingan sesama manusia dengan landasan Kasih pun merupakan upaya untuk mewujudkan keilahian dalam diri manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa "tak ada segala sesuatu selain Dia". "Lihatlah wajah-Nya di barat dan di timur dan utara dan selatan. Rasakan kehadiran-Nya di bumi dan di langit. Temukan kasih-Nya dalam diri manusia dan mahluk-mahluk hidup lainnya…"
Dalam perjalanan menggapai Kasih, Narada mengingatkan bahwa lingkungan pergaulan menjadi amat penting untuk diperhatikan. Kaama-Krodha-Moha-Smruti-Bhransha-Buddhi-Naasha-Sarva-Naasha-Kaaranatvaat. "(Pergaulan yang tidak menunjang kasih) hanya membangkitkan hawa napsu, amarah dan keterikatan. (Kemudian, manusia) menjadi pelupa, bimbang dan hilang pula kemampuannya untuk berpikir jernih. (Pada akhirnya,) dia binasa."
Mestilah dimengerti bahwa Narada berbicara pada mereka yang belajar untuk menjadi pecinta. Situasi yang dialami para "pemula" dapat diibaratkan dengan sebuah benih yang baru ditanam. Benih itu harus dipagari supaya ia dapat tumbuh dan tidak terinjak-injak. Jika benih sudah menjadi pohon besar, pagar tak lagi diperlukan. Ia justru bisa jadi pelindung bagi mereka yang mencari keteduhan. Itulah sebabnya, seperti diulas Anand Krishna, di sekitar seorang guru, biasanya tumbuh komunitas. Mirip-mirip dengan sangha dalam bahasa kaum budhis, atau jemaah atau jemaat. Komunitas ini, bukan saja untuk melindungi mereka yang belajar, tapi dengan kesadaran kolektifnya juga mampu menciptakan pool of energy yang bisa membantu peningkatan kesadaran sekaligus mempengaruhi kesadaran lingkungan luar yang lebih luas.
Dalam konteks ilmu biologi, hal ini telah diperkuat oleh riset yang dilakukan Dr. Rupert Sheldrake (biologist asal Cambridge yang menulis buku Seven Experiments that Could Change the World dan The Presence of the Past: Morphic Resonance & the Habits of Nature). Menurut Sheldrake, proses evolusi amat dipengaruhi oleh apa yang disebutnya morphic resonance, yaitu sebuah bentuk transfer informasi yang menembus ruang dan waktu di antara spesies tertentu. Salah satu penelitian Sheldrake - yang juga meneliti obyek-obyek yang lain - menunjukkan bahwa tikus-tikus di seluruh dunia akan menunjukkan kecenderungan lebih cepat untuk belajar sebuah trik tertentu, setelah trik tersebut dipelajari terlebih dahulu oleh beberapa tikus di tempat tertentu. Karena itu, peningkatan kesadaran kolektif sebuah komunitas, logisnya, juga dapat mempengaruhi perkembangan kesadaran manusia secara keseluruhan.
Yang juga menarik, Narada mengungkapkan sejumlah cara praktis untuk membumikan Cinta. "Walau 'Satu' dan 'Tunggal' ada-Nya, Cinta (terhadap Yang Maha Esa) dapat diungkapkan lewat sebelas cara (utama): Mencintai Sifat-Sifa-Nya; Mencintai Wujud-Nya; Memuja-Nya; Mengingat-Nya; Melayani-Nya; Mencintai-Nya sebagai Sahabat; Mencintai-Nya sebagai Anak (atau Orangtua); Mencintai-Nya sebagai Pasangan Hidup; Menyerahkan diri secara total; Menyatu dengan-Nya, dan; Merindukan Dia (Guna -Maahaatmaya-Aasakti Roopa-Aasakti Pooja-Aasakti Smaran-Aasakti Daasya-Aasakti Sakhya-Aasakti Vaatsalya-Aasakti Kaanta-Aasakti Aatma-Nivedana-Aasakti Tanmayataa-Aasakti Parama-Viraha-Aasakti Roopa Ekadhaa Ekaadashdaa Bhavati)."
Dengan ini, Narada hendak menunjukkan bahwa cara yang berbeda-beda untuk mengagungkan Tuhan yang dipilih oleh para Nabi, Avatar, Master, samasekali tidak bertentangan satu sama lain. Hal ini dipertegas oleh Anand Krishna, "Salahkah Yesus dan para nabi Israel yang menganggap Tuhan sebagai Bapa di Surga? Salahkah Ramakrishna yang menerima Tuhan sebagai Bunda Alam Semesta? Salahkah mereka yang sedang menglilingi Kabah, sembari mengagungkan kebesaran-Nya, Salahkah mereka yang sedang membakar dupa di vihara dan menyalakan lilin di gereja? Salahkah seorang Mansur yang merasakan kesatuan dengan-Nya? Salahkah para Gopi yang sedang merindukan Krishna?" Dengan menggunakan kacamata ini, seseorang yang dengan sadar mencintai Guru, Master atau Wali-nya, sesungguhnya, sedang membiarkan egonya terbakar untuk menyatu dengan Kasih Ilahi. Karena Tuhan Maha Besar ada-Nya, sulit bagi para murid yang baru belajar untuk 'mengenali-Nya'. Itu sebabnya, mereka mempersonifikasikan-Nya agar dapat lebih 'merasakan-Nya'. Jadi, semata-mata bukan merupakan pengkultusan individu yang irasional.
Sebagaimana buku-buku yang merupakan hasil transkripsi, terdapat beberapa pengulangan pembahasan tentang tema tertentu di sana-sini. Namun, hal ini bukan tanpa tujuan. Pengulangan demikian, seringkali dimaksudkan sebagai penekanan (emphasize) untuk mempermudah para murid memahami poin-poin terpenting yang hendak disampaikan. Bagi Para Master, sistematika memang tidak terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana murid "memahami" sekaligus "menyelami" Kebenaran yang memang utuh adanya.
Buku ini merupakan terjemahan Narada Bhakti Sutra versi Swami Tyagisananda dari Ordo Ramakrishna yang diselesaikan pada tahun 1940 dan dianggap oleh Anand Krishna sebagai terjemahan yang paling 'pas' - sebab dihasilkan oleh seorang praktisi spiritual yang tak sekedar berteori tapi juga mendalami. Beruntung pengulas yang juga menerjemahkan versi Indonesia karya ini datang dari tradisi yang kental dengan spiritualitas dunia timur, bahkan mengerti bahasa asli dari kitab berusia ribuan tahun ini, sehingga pembaca sedikit "dimanjakan". Namun, yang juga amat penting dari buku ini, adalah ide yang hendak disampaikan pada pembaca bahwa dari sudut pandang manapun, Cinta adalah universal. Bahwa Cinta tak hanya dimonopoli oleh "budayaku", "agamaku", "peradabanku". Semua bisa "menyanyikannya". Kiranya karya-karya semacam ini semakin memperkaya bangsa Indonesia dari perangkap fanatisme buta. Sehingga mampu bangkit dari keterpurukan multidimensional saat ini dan bersiap menjadi bangsa yang besar.(Wandy Nicodemus)
Pelanggan yang membeli buku ini juga membeli...
Ulasan:
Tanggal Dibuat: 15/10/2010
salam guruji,
i seek for your blessing,
om shanti.
afzar harianja.
pangaribuan, tapanuli utara, sumut.
i seek for your blessing,
om shanti.
afzar harianja.
pangaribuan, tapanuli utara, sumut.

















