Otak Para Pemimpin Kita dan Carut Marutnya Keadaan Bangsa
( Persoalan Kebangsaan yang Kita Hadapi dan Solusinya Sebuah Dialog yang Mencerahkan )
Rp20.000,-
| Format: | Soft Cover |
| Ukuran: | 11 x 17 cm. |
| Halaman: | 98 hal. |
| Kondisi: | Baru |
| ISBN: | 979-99450-7-0 |
| Berat: | 90 gram |
| Penerbit: | One Earth Media |
| Diterbitkan: | 2005 |
| Edisi Pertama? | Ya |
| Terbit pertama: | 2005 |
| Tweet | Share |
Kekacauan yang terjadi dengan bangsa ini, sesungguhnya dapat dilacak dari otak manusia...
Di luar "Otak Kiri" yang analitik dan "Otak Kanan" yang apresiatif, kita sering lupa bagian lain yang sangat penting, yaitu Lymbic - pusat insting hewani yang menjadi "penguasa" kedua otak tadi.
Selama belum "membersihkan" Lymbic, selama itu pula kita menjadi hamba kehewanian dalam diri kita. Para pemimpin yang rakus harta, tahta dan wanita, kendati pintar dan terlihat santun, sesungguhnya masih seorang "budak Lymbic".
Tapi, jangan berkecil hati. Manusia Indonesia bisa mencapai kesadaran lebih tinggi, berevolusi menjadi bangsa yang jaya. Nah, ikuti dialog yang mencerahkan ini.
Anand Krishna adalah warga negara Indonesia keturunan India, yang disebut sebagai “sang fenomenal” baik oleh orang yang mengkritiknya maupun yang bersimpati padanya. Para pengkritiknya bertanya-tanya, “Apa yang membuat ia begitu populer? Bukankah tak ada yang luar biasa darinya?” Sebaliknya mereka yang bersimpati pada Anand Krishna sungguh mengapresiasi tekadnya untuk menyebarkan kedamaian di antara kelompok masyarakat yang berbeda dan mengklaimkan: “Dia datang dari Sumber Segala Kebijaksanaan.”
Dalam 18 tahun terakhir, Anand Krishna telah berbicara pada jutaan orang lewat siaran televisi, dialog radio, pelatihan-pelatihan, buku-buku, wawancara surat kabar dan pelbagai artikel koran.
Informasi lebih lanjut tentang Anand Krishna dapat dilihat di Aumkar.org Harian Kedaulatan Rakyat (KR), Minggu 15 Januari 2006
"Bagian Kiri berurusan dengan logika, matematika, analisa dan lain sebagainya, sementara Bagian Kanan lebih "berperasaan". Sense of Beauty, Keindahan, estetika, segala macam arts atau seni, bahkan imaginasi, visi...semuanya diurusi Otak Bagian Kanan."
"Sementara ini kedua bagian itu menjadi budak Lymbic, yang masih sangat hewani. Maka segala apa yang kita lakukan masih diwarnai oleh kehewanian kita. " (halaman 24)
Begitulah penjelasan Dokter Bambang Setiawan tentang mekanisme kerja otak manusia. Ahli bedah syaraf ini berhasil menganalisa bahwa carut-marutnya pemasalahan bangsa ini bisa dideteksi dari struktur-susunan syaraf otak. Mayoritas masyarakat kita masih menjadi budak Lymbic, yakni bagian batang otak yang semata-mata mengejar kenyamanan diri dan memuaskan nafsu pribadi. Maka tidak mengherankan jika tingkah-pongah pemimpin kita terkesan liar dan egoistik serta kurang peka terhadap penderitaan rakyat.
Sistem pendidikan kitapun hanya mengasah Otak Kiri, akal belaka, sehingga banyak menghasilkan intelektual. Namun kepandaian tersebut dipakai untuk ngakali, minteri orang lain, akar permasalahannya sama karena masih dikendalikan Lymbic.
Parahnya lagi, saat Lymbic ini berkolaborasi dengan Otak Kanan, yang kaya unsur estetika, sehingga keinginan-keinginan hewani tadi dipoles dengan kata-kata manis, janji-janji muluk supaya terkesan lebih indah, halus dan menarik. Namun tetap saja sami mawon, semua itu sekedar untuk memuaskan kepentingan pribadi. Bukankah hal semacam ini yang kerap dilakukan para politisi kita? Mereka mnegumbar janji-janji saat kampanye pemilu, tapi setelah berkuasa, melik nggendong lali, lupa pada amanah untuk melayani, mensejahterakan rakyat. Tapi bukankah kita juga yang memilih para pemimpin bangsa ini, maka kitapun bertanggungjawab untuk mengatasi pemasalahan kebangsaan ini.
Solusi atas permasalahan ini amat sederhana, yakni dengan rajin-rajin, telaten membersihkan Lymbic Section ini dari endapan sampah pikiran, karat emosi, trauma masa lalu yang terpendam dalam gudang subconcious, sistem bawah sadar kita. Bisa lewat doa, meditasi, dzikir, disesuaikan dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing.
Apabila kita sudah menjadi Tuan atas diri kita sendiri, yakni mampu mengendalikan kecenderungan-kecenderuangan hewani tadi maka secara otomatis kita menjadi lebih manusiawi, peka dan berempati pada sesama. Kita tak akan mengorbankan orang lain demi kepuasan pribadi. Keberadaan kita akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar.
Buku ini merupakan dokumentasi Acara Diskusi Bulanan yang diadakan oleh National Integration Movement di Padepokan Spiritual Lintas Agama One earth One Sky One Humankind, Bukit Pelangi (Jawa Barat) pada 15 April 2005 lalu.
Buku ini menghadirkan 3 tokoh yang kompeten di bidangnya masing-masing, pertama adalah Dokter Setiawan, seorang Pakar Otak yang telah puluhan tahun berpraktik di Jakarta. Pria sal Pekalongan ini sejak usia dini menekuni spiritualitas dan sains modern. Beliau adalah sosok hidup yang balance, karena otak kiri dan kanannya berkembang secara optimal. Pernah juga menulis buku Medis dan Meditasi, yang menjelaskan kaitan antara Kebijaksanaan Timur dan Sains Modern Barat.
Kedua, Didi Nini Thowok, Seorang penari dan pelaku budaya, beliau menguasai berbagai tarian tradisi asli Nusantara, karya klasik India serta menciptakan aneka genre tarian kontemporer baru. Seniman kelahiran Temanggung 13 November 1954 ini dengan tegas menolak untu mengajar di kampus terkemuka di luar negeri, dengan bayaran yang menggiurkan. Dan lebih memilih membuka sanggar tari sederhana di Yogyakarta, visinya adalah untuk mengajak anak-anak mengenal dan mencintai seni dan budaya Nusantara sejak usia dini.
Ketiga, adalah Anand Krishna, tokoh humanis lintas agama yang selama 15 tahun terakhir mencurahkan energi untuk menyuarakan tekad persatuan dan membangkitkan rasa Cinta-Bhakti pada Ibu Pertiwi antara lain lewat penulisan puluhan buku, menggelar Simposium Kebangsaan, mengadakan Program Mengajar Tanpa Dihajar Stress bagi para Pendidik-Guru dan Berkarya Tanpa Beban Stress (BTDS) untuk para karyawan.
Buku ini padat berisi, menyajikan dialog yang mencerahkan serta memberikan solusi konkrit atas peliknya persoalan kebangsaan kita. Terdiri dari 5 bagian, yang pertama adalah sesi Bedah OTak, yakni mengulas struktur otak manusia, serta perannya dalam koordinasi tubuh sekaligus mind. Selanjutnya Mengembangkan Rasa, sense of art and beauty, apresiasi, rasa empati dalam diri manusia menjadi lemut, pengasih dan penyayang. Ketiga Serba-Serbi otak - Warna warni Otak, yaitu ajakan untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, ibarat warna-warni dalam pelangi yang justru memperindah dan mempercantik keberadaannya. Aneka cara untuk memberangus perbedaan dan menyeragamkan manusia berarti menyalahi kodrat hukum alam. Bagian keempat adalah Setelah dibedah, Isnya Allah,manusia menyadari Jati Dirinya, ia berhasil menaklukakn insting hewani yang selama ini mengekangnya. Ia menjadi semakin manusiawi. Terakhir adalah latihan Pembenahan Diri semacam panduan praktis untuk memberdaya diri, membersihkan lybic dari sampah-sampah stress, taruma, ketakuta dan kekecewaan. Sehingga kita tak hanya rumangsa bisa, sebatas paham secara kognitif-rationil tapi juga bisa rumangsa, bisa mencicipi rasa - pengalamannya.
Buku ini layak dibaca oleh para pemimpin, orang tua, guru, karyawan dan siapa saja yang berniat untuk menjadi lebih manusiawi lewat pemahaman hidup yang utuh dan bening tentang strktur otak. Kemudian bersedia melakukan Jihad Akbar yakni secara tekun dan rendah hati untuk menaklukkan keluaran hewani dalam diri.
Sehingga akhirnya menjadi lebih manusiawi dan lembut. Hati kita akan berlembab dan inklusif sudi menghargai perbedaan yang ada. Serta mampu berbagi rasa, lewat Bhakti secara tulus bagi sesama dan Ibu Pertiwi Tercinta, INDONESIA. (Tarsisius Nugroho Angkasa, Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Di luar "Otak Kiri" yang analitik dan "Otak Kanan" yang apresiatif, kita sering lupa bagian lain yang sangat penting, yaitu Lymbic - pusat insting hewani yang menjadi "penguasa" kedua otak tadi.
Selama belum "membersihkan" Lymbic, selama itu pula kita menjadi hamba kehewanian dalam diri kita. Para pemimpin yang rakus harta, tahta dan wanita, kendati pintar dan terlihat santun, sesungguhnya masih seorang "budak Lymbic".
Tapi, jangan berkecil hati. Manusia Indonesia bisa mencapai kesadaran lebih tinggi, berevolusi menjadi bangsa yang jaya. Nah, ikuti dialog yang mencerahkan ini.
Anand Krishna adalah warga negara Indonesia keturunan India, yang disebut sebagai “sang fenomenal” baik oleh orang yang mengkritiknya maupun yang bersimpati padanya. Para pengkritiknya bertanya-tanya, “Apa yang membuat ia begitu populer? Bukankah tak ada yang luar biasa darinya?” Sebaliknya mereka yang bersimpati pada Anand Krishna sungguh mengapresiasi tekadnya untuk menyebarkan kedamaian di antara kelompok masyarakat yang berbeda dan mengklaimkan: “Dia datang dari Sumber Segala Kebijaksanaan.”
Dalam 18 tahun terakhir, Anand Krishna telah berbicara pada jutaan orang lewat siaran televisi, dialog radio, pelatihan-pelatihan, buku-buku, wawancara surat kabar dan pelbagai artikel koran.
Informasi lebih lanjut tentang Anand Krishna dapat dilihat di Aumkar.org Harian Kedaulatan Rakyat (KR), Minggu 15 Januari 2006
"Bagian Kiri berurusan dengan logika, matematika, analisa dan lain sebagainya, sementara Bagian Kanan lebih "berperasaan". Sense of Beauty, Keindahan, estetika, segala macam arts atau seni, bahkan imaginasi, visi...semuanya diurusi Otak Bagian Kanan."
"Sementara ini kedua bagian itu menjadi budak Lymbic, yang masih sangat hewani. Maka segala apa yang kita lakukan masih diwarnai oleh kehewanian kita. " (halaman 24)
Begitulah penjelasan Dokter Bambang Setiawan tentang mekanisme kerja otak manusia. Ahli bedah syaraf ini berhasil menganalisa bahwa carut-marutnya pemasalahan bangsa ini bisa dideteksi dari struktur-susunan syaraf otak. Mayoritas masyarakat kita masih menjadi budak Lymbic, yakni bagian batang otak yang semata-mata mengejar kenyamanan diri dan memuaskan nafsu pribadi. Maka tidak mengherankan jika tingkah-pongah pemimpin kita terkesan liar dan egoistik serta kurang peka terhadap penderitaan rakyat.
Sistem pendidikan kitapun hanya mengasah Otak Kiri, akal belaka, sehingga banyak menghasilkan intelektual. Namun kepandaian tersebut dipakai untuk ngakali, minteri orang lain, akar permasalahannya sama karena masih dikendalikan Lymbic.
Parahnya lagi, saat Lymbic ini berkolaborasi dengan Otak Kanan, yang kaya unsur estetika, sehingga keinginan-keinginan hewani tadi dipoles dengan kata-kata manis, janji-janji muluk supaya terkesan lebih indah, halus dan menarik. Namun tetap saja sami mawon, semua itu sekedar untuk memuaskan kepentingan pribadi. Bukankah hal semacam ini yang kerap dilakukan para politisi kita? Mereka mnegumbar janji-janji saat kampanye pemilu, tapi setelah berkuasa, melik nggendong lali, lupa pada amanah untuk melayani, mensejahterakan rakyat. Tapi bukankah kita juga yang memilih para pemimpin bangsa ini, maka kitapun bertanggungjawab untuk mengatasi pemasalahan kebangsaan ini.
Solusi atas permasalahan ini amat sederhana, yakni dengan rajin-rajin, telaten membersihkan Lymbic Section ini dari endapan sampah pikiran, karat emosi, trauma masa lalu yang terpendam dalam gudang subconcious, sistem bawah sadar kita. Bisa lewat doa, meditasi, dzikir, disesuaikan dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing.
Apabila kita sudah menjadi Tuan atas diri kita sendiri, yakni mampu mengendalikan kecenderungan-kecenderuangan hewani tadi maka secara otomatis kita menjadi lebih manusiawi, peka dan berempati pada sesama. Kita tak akan mengorbankan orang lain demi kepuasan pribadi. Keberadaan kita akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar.
Buku ini merupakan dokumentasi Acara Diskusi Bulanan yang diadakan oleh National Integration Movement di Padepokan Spiritual Lintas Agama One earth One Sky One Humankind, Bukit Pelangi (Jawa Barat) pada 15 April 2005 lalu.
Buku ini menghadirkan 3 tokoh yang kompeten di bidangnya masing-masing, pertama adalah Dokter Setiawan, seorang Pakar Otak yang telah puluhan tahun berpraktik di Jakarta. Pria sal Pekalongan ini sejak usia dini menekuni spiritualitas dan sains modern. Beliau adalah sosok hidup yang balance, karena otak kiri dan kanannya berkembang secara optimal. Pernah juga menulis buku Medis dan Meditasi, yang menjelaskan kaitan antara Kebijaksanaan Timur dan Sains Modern Barat.
Kedua, Didi Nini Thowok, Seorang penari dan pelaku budaya, beliau menguasai berbagai tarian tradisi asli Nusantara, karya klasik India serta menciptakan aneka genre tarian kontemporer baru. Seniman kelahiran Temanggung 13 November 1954 ini dengan tegas menolak untu mengajar di kampus terkemuka di luar negeri, dengan bayaran yang menggiurkan. Dan lebih memilih membuka sanggar tari sederhana di Yogyakarta, visinya adalah untuk mengajak anak-anak mengenal dan mencintai seni dan budaya Nusantara sejak usia dini.
Ketiga, adalah Anand Krishna, tokoh humanis lintas agama yang selama 15 tahun terakhir mencurahkan energi untuk menyuarakan tekad persatuan dan membangkitkan rasa Cinta-Bhakti pada Ibu Pertiwi antara lain lewat penulisan puluhan buku, menggelar Simposium Kebangsaan, mengadakan Program Mengajar Tanpa Dihajar Stress bagi para Pendidik-Guru dan Berkarya Tanpa Beban Stress (BTDS) untuk para karyawan.
Buku ini padat berisi, menyajikan dialog yang mencerahkan serta memberikan solusi konkrit atas peliknya persoalan kebangsaan kita. Terdiri dari 5 bagian, yang pertama adalah sesi Bedah OTak, yakni mengulas struktur otak manusia, serta perannya dalam koordinasi tubuh sekaligus mind. Selanjutnya Mengembangkan Rasa, sense of art and beauty, apresiasi, rasa empati dalam diri manusia menjadi lemut, pengasih dan penyayang. Ketiga Serba-Serbi otak - Warna warni Otak, yaitu ajakan untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, ibarat warna-warni dalam pelangi yang justru memperindah dan mempercantik keberadaannya. Aneka cara untuk memberangus perbedaan dan menyeragamkan manusia berarti menyalahi kodrat hukum alam. Bagian keempat adalah Setelah dibedah, Isnya Allah,manusia menyadari Jati Dirinya, ia berhasil menaklukakn insting hewani yang selama ini mengekangnya. Ia menjadi semakin manusiawi. Terakhir adalah latihan Pembenahan Diri semacam panduan praktis untuk memberdaya diri, membersihkan lybic dari sampah-sampah stress, taruma, ketakuta dan kekecewaan. Sehingga kita tak hanya rumangsa bisa, sebatas paham secara kognitif-rationil tapi juga bisa rumangsa, bisa mencicipi rasa - pengalamannya.
Buku ini layak dibaca oleh para pemimpin, orang tua, guru, karyawan dan siapa saja yang berniat untuk menjadi lebih manusiawi lewat pemahaman hidup yang utuh dan bening tentang strktur otak. Kemudian bersedia melakukan Jihad Akbar yakni secara tekun dan rendah hati untuk menaklukkan keluaran hewani dalam diri.
Sehingga akhirnya menjadi lebih manusiawi dan lembut. Hati kita akan berlembab dan inklusif sudi menghargai perbedaan yang ada. Serta mampu berbagi rasa, lewat Bhakti secara tulus bagi sesama dan Ibu Pertiwi Tercinta, INDONESIA. (Tarsisius Nugroho Angkasa, Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)














