Shambala: Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran
Rp35.000,-
| Penulis: |
| Format: | Soft Cover, dengan Jaket |
| Ukuran: | 11 x 18 cm. |
| Halaman: | 228 hal. |
| Kondisi: | Baru |
| ISBN: | 979-655-595-6 |
| Berat: | 190 gram |
| Penerbit: | Gramedia Pustaka Utama |
| Diterbitkan: | Maret 2000 |
| Terbit pertama: | 2000 |
| Tweet | Share |
Betapa sakit hati kita dan gelap dunia ini, ketika penderitaan menimpa, ketika bangunan nilai dan impian kita runtuh, porak poranda. Anehnya, para bijak mengatakan bahwa saat itu justru merupakan saat penuh rahmat; situasi kritis yang bila kita selami kedalamannya, dan berhasil kita lewati, akan membuat kita mengerti perkara-perkara hakiki.
Kekecewaan kita dengan amat jelas menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus kita benahi sehubungan dengan fondasi hidup kita. Penderitaan dengan jelas menyingkapkan bahwa ada yang melenceng dalam persepsi kita terhadap hakikat hidup ini.
Sadar akan kenyataan ini, sedikit demi sedikit, kita akan dituntun oleh berbagai "kebetulan", yang setahap demi setahap membawa kita ke Pencerahan Purna. Orang yang awas, dan membuka diri terhadap "kebetulan" itu akan tercengang menyaksikan Tuntunan Ilahi dalam berbagai peristiwa tak terduga. Anand Krishna adalah warga negara Indonesia keturunan India, yang disebut sebagai “sang fenomenal” baik oleh orang yang mengkritiknya maupun yang bersimpati padanya. Para pengkritiknya bertanya-tanya, “Apa yang membuat ia begitu populer? Bukankah tak ada yang luar biasa darinya?” Sebaliknya mereka yang bersimpati pada Anand Krishna sungguh mengapresiasi tekadnya untuk menyebarkan kedamaian di antara kelompok masyarakat yang berbeda dan mengklaimkan: “Dia datang dari Sumber Segala Kebijaksanaan.”
Dalam 18 tahun terakhir, Anand Krishna telah berbicara pada jutaan orang lewat siaran televisi, dialog radio, pelatihan-pelatihan, buku-buku, wawancara surat kabar dan pelbagai artikel koran.
Informasi lebih lanjut tentang Anand Krishna dapat dilihat di Aumkar.org Pikiran Menentukan Suka dan Duka
Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah ketika apa yang kita harapkan, kita impikan menjadi kenyataan. Namun seringkali yang terjadi adalah sebaliknya, harapan tinggal harapan, impian tinggal impian, apa yang kita kehendaki tidak selalu menjadi kenyataan.
Ketika itu terjadi, maka yang ada adalah kekecewaan yang begitu besar, penderitaan yang amat berat dan bayangan gelap yang senantiasa menyelimuti seluruh hidup kita.
Kekecewaan kita menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus kita benahi sehubungan dengan cara kita memandang kehidupan itu sendiri. Orang bijak mengatakan penderitaan, kekecewaan dalam hidup justru, rahmat yang diberikan oleh sang Pencipta untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita membenahi cara pandang kita terhadap kehidupan, sehingga setiap kekecewaan, penderitaan, tidak lagi menjadi bayangan gelap, tetapi merupakan rahmat Tuhan yang menyadarkan kita akan hakekat hidup itu sendiri.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyelami rasa kecewa itu sampai sedalam-dalamnya, dengan segala cara, sampai akhirnya kita menjadi muak. Atau, kita menyelam ke dalam diri, memahami hakekat diri sejati sebagaimana yang ditulis oleh Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul Shambala.
Dengan gaya bahasa yang sangat lugas dan santai, mirip-mirip dengan novel, Anand Krishna mengajak kita untuk mencoba membenahi persepsi kita terhadap hakekat hidup ini. Diawali dengan cerita kepedihan Joseph yang ditinggal mati kekasihnya, Dewi, dengan cara yang amat tragis, bunuh diri. Penyebab bunuh diri sang kekasih adalah larangan orang tua Dewi terhadap hubungan mereka, karena perbedaan agama.
Kepedihan yang amat sangat yang dirasakan oleh Joseph, kebingungan Joseph akan pandangan bahwa perbedaan agama tidak memperbolehkan dua insan membina hubungan meskipun mereka saling mencintai, membuahkan banyak pertanyaan dikepalanya. "Dapatkah Tuhan mendaur ulang kelemahan diriku dan menggantikannya dengan kekuatan? Dapatkah Tuhan mengambil alih penderitaanku dan menggantikannya dengan kebahagiaan ? Dapatkah Tuhan mengubah perpisahan menjadi pertemuan ? Dapatkah Tuhan mengembalikan Dewiku ? " (hlm 6).
Dalam kegelisahannya ia menemukan konsep reinkanarsi. Ia mengutip dari berbagai sumber - tidak hanya dari buku-buku Hindu dan Budha- tetapi juga pendapat dari orang-orang non Hindu dan Budha. Dari sini ia mulai meyakini bahwa reinkarnasi itu ada, dan yakin bahwa Dewi tidak mati. Bahwa Dewi hanya lenyap dari pandangan untuk sesaat. (hlm 29).
Keyakinannya akan dapat bertemu lagi dengan Dewi, membuatnya pergi ke India. Dia yakin pula bahwa India dapat menjawab semua pertanyaannya. Dan tempat yang dituju adalah Haridwar, Rishikesh, kota suci umat Hindu di kaki penggunungan Himalaya. Tempat dimana para guru, para mistik dan para yogi berkumpul.
Semangat Joseph yang tinggi untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dan untuk menemukan orang yang sangat dikasihi, membukakan dirinya pada kebetulan-kebetulan yang tanpa disadari setahap demi setahap menuntunnya pada pemahaman akan hakikat hidup, pada Pencerahan Purna.
Melalui berbagai peristiwa "kebetulan", akhirnya Joseph mendapatkan pemahaman baru akan hakikat kehidupan. Dari hasil perenungannya diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1) Tuhan itu Satu Ada-Nya 2) Agama-agama yang berbeda itu hanyalah jalan untuk menuju Tuhan Yang Satu Ada-Nya 3) Alam semesta dengan segala isinya harus dihormati 4) Tempat-tempat dan individu-individu tertentu dapat memicu terjadinya peningkatan kesadaran 5) Hukum Evolusi dan Sebab Akibat menentukan suka dan duka yang dialami oleh manusia 6) Yang memerosotkan kesadaran adalah mind (hlm 93-94), 7) Menemukan Jatidiri sama dengan menemukan Tuhan (hlm 143) 8) Kesadaran diri harus diterjemahkan dalam hidup sehari-hari (hlm 184) 9) Di atas segalanya, seseorang harus mandiri (hlm 217).
Dengan pemahaman baru tersebut Joseph terbebaskan dari penderitaan yang dialami. Dia dapat tersenyum kembali dan bahkan menjadi lebih hidup dari sebelumnya.
Nampaknya ada sesuatu yang pokok yang ingin disampaikan Anand Krishna lewat buku Shambala ini. Bahwa pikiran, dalam hal ini persepsi kita terhadap hakikat hidup, sangat berpengaruh pada perasaan suka dan duka yang kita rasakan. Begitu persepsi kita berubah, maka berubah pula perasaan kita, cara kita menghadapi berbagai masalah dalam hidup ini. Namun merubah persepsi tidak mudah bila kita sendiri tidak membuka diri terhadap hal-hal baru, terhadap pemahaman-pemahaman lain, di luar konsep yang telah tertanam di dalam diri kita.
Pesan di atas disampaikan dengan cara yang sangat unik. Mirip novel, tapi bukan dongeng belaka, karena hal yang diceritakan bukan sesuatu yang aneh dan bukan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Bahasanya yang ringan membuat buku ini sangat asyik untuk dibaca. Asalkan tidak mempertanyakan kelanjutan dari titik-titik yang ada dalam pembahasan 'Memasuki Shambala' dan tidak sibuk mempertentangkan antara ada/tidaknya tempat yang bernama Shambala, keseluruhan isi buku ini memberikan pemahaman yang sangat berguna untuk peningkatan kesadaran akan hakikat hidup. Sehingga kita dapat merasakan dan mensyukuri Rahmat yang diberikan Tuhan dalam setiap peristiwa yang kita alami. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih bermakna.
- Sukmawati
Kekecewaan kita dengan amat jelas menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus kita benahi sehubungan dengan fondasi hidup kita. Penderitaan dengan jelas menyingkapkan bahwa ada yang melenceng dalam persepsi kita terhadap hakikat hidup ini.
Sadar akan kenyataan ini, sedikit demi sedikit, kita akan dituntun oleh berbagai "kebetulan", yang setahap demi setahap membawa kita ke Pencerahan Purna. Orang yang awas, dan membuka diri terhadap "kebetulan" itu akan tercengang menyaksikan Tuntunan Ilahi dalam berbagai peristiwa tak terduga. Anand Krishna adalah warga negara Indonesia keturunan India, yang disebut sebagai “sang fenomenal” baik oleh orang yang mengkritiknya maupun yang bersimpati padanya. Para pengkritiknya bertanya-tanya, “Apa yang membuat ia begitu populer? Bukankah tak ada yang luar biasa darinya?” Sebaliknya mereka yang bersimpati pada Anand Krishna sungguh mengapresiasi tekadnya untuk menyebarkan kedamaian di antara kelompok masyarakat yang berbeda dan mengklaimkan: “Dia datang dari Sumber Segala Kebijaksanaan.”
Dalam 18 tahun terakhir, Anand Krishna telah berbicara pada jutaan orang lewat siaran televisi, dialog radio, pelatihan-pelatihan, buku-buku, wawancara surat kabar dan pelbagai artikel koran.
Informasi lebih lanjut tentang Anand Krishna dapat dilihat di Aumkar.org Pikiran Menentukan Suka dan Duka
Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah ketika apa yang kita harapkan, kita impikan menjadi kenyataan. Namun seringkali yang terjadi adalah sebaliknya, harapan tinggal harapan, impian tinggal impian, apa yang kita kehendaki tidak selalu menjadi kenyataan.
Ketika itu terjadi, maka yang ada adalah kekecewaan yang begitu besar, penderitaan yang amat berat dan bayangan gelap yang senantiasa menyelimuti seluruh hidup kita.
Kekecewaan kita menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus kita benahi sehubungan dengan cara kita memandang kehidupan itu sendiri. Orang bijak mengatakan penderitaan, kekecewaan dalam hidup justru, rahmat yang diberikan oleh sang Pencipta untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita membenahi cara pandang kita terhadap kehidupan, sehingga setiap kekecewaan, penderitaan, tidak lagi menjadi bayangan gelap, tetapi merupakan rahmat Tuhan yang menyadarkan kita akan hakekat hidup itu sendiri.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyelami rasa kecewa itu sampai sedalam-dalamnya, dengan segala cara, sampai akhirnya kita menjadi muak. Atau, kita menyelam ke dalam diri, memahami hakekat diri sejati sebagaimana yang ditulis oleh Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul Shambala.
Dengan gaya bahasa yang sangat lugas dan santai, mirip-mirip dengan novel, Anand Krishna mengajak kita untuk mencoba membenahi persepsi kita terhadap hakekat hidup ini. Diawali dengan cerita kepedihan Joseph yang ditinggal mati kekasihnya, Dewi, dengan cara yang amat tragis, bunuh diri. Penyebab bunuh diri sang kekasih adalah larangan orang tua Dewi terhadap hubungan mereka, karena perbedaan agama.
Kepedihan yang amat sangat yang dirasakan oleh Joseph, kebingungan Joseph akan pandangan bahwa perbedaan agama tidak memperbolehkan dua insan membina hubungan meskipun mereka saling mencintai, membuahkan banyak pertanyaan dikepalanya. "Dapatkah Tuhan mendaur ulang kelemahan diriku dan menggantikannya dengan kekuatan? Dapatkah Tuhan mengambil alih penderitaanku dan menggantikannya dengan kebahagiaan ? Dapatkah Tuhan mengubah perpisahan menjadi pertemuan ? Dapatkah Tuhan mengembalikan Dewiku ? " (hlm 6).
Dalam kegelisahannya ia menemukan konsep reinkanarsi. Ia mengutip dari berbagai sumber - tidak hanya dari buku-buku Hindu dan Budha- tetapi juga pendapat dari orang-orang non Hindu dan Budha. Dari sini ia mulai meyakini bahwa reinkarnasi itu ada, dan yakin bahwa Dewi tidak mati. Bahwa Dewi hanya lenyap dari pandangan untuk sesaat. (hlm 29).
Keyakinannya akan dapat bertemu lagi dengan Dewi, membuatnya pergi ke India. Dia yakin pula bahwa India dapat menjawab semua pertanyaannya. Dan tempat yang dituju adalah Haridwar, Rishikesh, kota suci umat Hindu di kaki penggunungan Himalaya. Tempat dimana para guru, para mistik dan para yogi berkumpul.
Semangat Joseph yang tinggi untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dan untuk menemukan orang yang sangat dikasihi, membukakan dirinya pada kebetulan-kebetulan yang tanpa disadari setahap demi setahap menuntunnya pada pemahaman akan hakikat hidup, pada Pencerahan Purna.
Melalui berbagai peristiwa "kebetulan", akhirnya Joseph mendapatkan pemahaman baru akan hakikat kehidupan. Dari hasil perenungannya diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1) Tuhan itu Satu Ada-Nya 2) Agama-agama yang berbeda itu hanyalah jalan untuk menuju Tuhan Yang Satu Ada-Nya 3) Alam semesta dengan segala isinya harus dihormati 4) Tempat-tempat dan individu-individu tertentu dapat memicu terjadinya peningkatan kesadaran 5) Hukum Evolusi dan Sebab Akibat menentukan suka dan duka yang dialami oleh manusia 6) Yang memerosotkan kesadaran adalah mind (hlm 93-94), 7) Menemukan Jatidiri sama dengan menemukan Tuhan (hlm 143) 8) Kesadaran diri harus diterjemahkan dalam hidup sehari-hari (hlm 184) 9) Di atas segalanya, seseorang harus mandiri (hlm 217).
Dengan pemahaman baru tersebut Joseph terbebaskan dari penderitaan yang dialami. Dia dapat tersenyum kembali dan bahkan menjadi lebih hidup dari sebelumnya.
Nampaknya ada sesuatu yang pokok yang ingin disampaikan Anand Krishna lewat buku Shambala ini. Bahwa pikiran, dalam hal ini persepsi kita terhadap hakikat hidup, sangat berpengaruh pada perasaan suka dan duka yang kita rasakan. Begitu persepsi kita berubah, maka berubah pula perasaan kita, cara kita menghadapi berbagai masalah dalam hidup ini. Namun merubah persepsi tidak mudah bila kita sendiri tidak membuka diri terhadap hal-hal baru, terhadap pemahaman-pemahaman lain, di luar konsep yang telah tertanam di dalam diri kita.
Pesan di atas disampaikan dengan cara yang sangat unik. Mirip novel, tapi bukan dongeng belaka, karena hal yang diceritakan bukan sesuatu yang aneh dan bukan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Bahasanya yang ringan membuat buku ini sangat asyik untuk dibaca. Asalkan tidak mempertanyakan kelanjutan dari titik-titik yang ada dalam pembahasan 'Memasuki Shambala' dan tidak sibuk mempertentangkan antara ada/tidaknya tempat yang bernama Shambala, keseluruhan isi buku ini memberikan pemahaman yang sangat berguna untuk peningkatan kesadaran akan hakikat hidup. Sehingga kita dapat merasakan dan mensyukuri Rahmat yang diberikan Tuhan dalam setiap peristiwa yang kita alami. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih bermakna.
- Sukmawati
Pelanggan yang membeli buku ini juga membeli...
Ulasan:
Tanggal Dibuat: 02/11/2009
Setelah membaca buku Shambala, pikiran saya berubah 180 derajad terhadap pemahamn agama yg selama ini ada dalam benak saya. Cerita yg menggugah perasaan. Perkawinan antar agama sehrsnya tidak jadi masalah selama masing2 menyadari bhw sesungguhnya keyakinan thd agama merupakan urusan pribadi. Bukan menjadi ranah publik, walaupun orang tua sendiri.
Ternyata kematian bukan penyelesaian terhadap permasalahan yg saat hidup di hadapi. Hidup hrs kembali terulang jika masih ada keterikatan thd sebab2 yg pernah kita perbuat di dunia.
Ternyata kematian bukan penyelesaian terhadap permasalahan yg saat hidup di hadapi. Hidup hrs kembali terulang jika masih ada keterikatan thd sebab2 yg pernah kita perbuat di dunia.
















